Inilah hidupku, kenapa aku harus ada di sini? Di tempat ini. Tempat yang benar-benar membuatku sengsara, terkurung. Tanpa sedikitpun kebebasan. Malam itu, kepalaku terasa pusing. Sangat pusing. Padahal sebelumnya aku telah merencanakan untuk kabur setelah pesta pernikahan itu. Aku tak pernah menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh orang yang kini menjadi suamiku. Laki-laki yang dengan paksa dinikahkan denganku. Gadis yang masih kecil ini. Terhitung waktu itu usiaku masih 15 tahun. Sebagai anak dari keluarga terpandang, ternyata nasibku tidak semujur yang orang-orang pikirkan. Ayahku, seorang pemilik kebun teh telah menikahkan aku dengan anak dari salah seorang rekan bisnisnya yang kaya raya. Aku merasa seperti hidup di penjara.
***
“ Hamidah? Kau kah itu?” panggil Maysaroh dari jauh dengan heran. Aku lama tidak berjumpa dengannya sejak lulus MTs. Dia teman sebangkuku dulu. Aku menoleh kearahnya dengan mencoba mengingat-ingat siapa namanya. “ Iya, Aku Hamidah, kamu Maysaroh kah?” tanyaku terheran. “ Iya, kok kamu tambah kurus ya, kuliah dimana sekarang?” tanyanya. Pertanyaan itu seperti menghantam kepalaku. Dulu, ketika aku masih sekolah, aku sering bercengkrama dengannya. Bermimpi bersama meraih cita-cita. Sempat kuceritakan padanya keinginanku menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Jakarta. Sementara Maysaroh ingin menjadi seorang penulis terkenal. Lama aku tak menjawab pertanyaanya, seolah bumi dan waktu ini berhenti sejenak menanti kesiapanku menjawabnya.
***
“ Hamidah? Kau kah itu?” panggil Maysaroh dari jauh dengan heran. Aku lama tidak berjumpa dengannya sejak lulus MTs. Dia teman sebangkuku dulu. Aku menoleh kearahnya dengan mencoba mengingat-ingat siapa namanya. “ Iya, Aku Hamidah, kamu Maysaroh kah?” tanyaku terheran. “ Iya, kok kamu tambah kurus ya, kuliah dimana sekarang?” tanyanya. Pertanyaan itu seperti menghantam kepalaku. Dulu, ketika aku masih sekolah, aku sering bercengkrama dengannya. Bermimpi bersama meraih cita-cita. Sempat kuceritakan padanya keinginanku menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Jakarta. Sementara Maysaroh ingin menjadi seorang penulis terkenal. Lama aku tak menjawab pertanyaanya, seolah bumi dan waktu ini berhenti sejenak menanti kesiapanku menjawabnya.
“A..Aku nggak kuliah kok, May. Aku sudah menikah sejak lulus MTs dulu. Ayahku menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya” Aku menerawang. Dia menatapku dalam, seolah keheranan. “ Oh, jadi kamu sudah menikah. Selamat ya! Sudah punya anak berapa?” “Aku belum punya anak kok, May” ucapku getir, menahan penderitaan ini seakan ingin segera mengadu padanya. Tapi kuurungkan niatku karena aku pikir dia tidak perlu tahu tentang hal ini. “ Oh ya, May. Sekarang kamu kuliah dimana?” “ Di Jakarta, Mid. Aku sekarang bergabung di sebuah organisasi kepenulisan di Jakarta, bersama mereka aku bisa belajar dan berusaha mewujudkan cita-citaku. Aku telah menemukan duniaku, Mida”. Dia memelukku dengan wajah yang begitu sumringah. Dia bakal jadi orang sukses, batinku.
“ Emm, Aku pulang dulu ya, sudah ditunggu suami. Lain kali kita ketemu lagi ya, May. Oya nomor telepon kamu berapa?” Kataku memohon pamit. Sambil menyebutkan nomor teleponnya dia mengijinkanku pulang. Bagiku, Maysaroh adalah teman terbaikku selama ini. Sahabat yang selalu membuatku terus bersemangat. Tapi sayang, nasib berkata lain padaku. Aku harus hidup dalam belenggu pernikahan yang sama sekali tidak membuatku bahagia. Apalagi suamiku yang sama sekali tidak menghargaiku. Kadang-kadang menganggapku seperti sampah. Saat ini, aku masih bisa tegar.
***
***
Hari itu ayahku berkunjung ke rumahku bersama ibuku tercinta. Aku gugup ketika melihat mobil berhenti di halaman rumah. Pintu mobil terbuka. Sesosok lelaki setengah baya turun dari mobil dengan penuh wibawa. Aku mendekat lantas menyalaminya, Birrul Walidain, pikirku. Meski seolah terlihat santai, hatiku merasa benar-benar takut kalau orang tuaku tahu bahwa aku menderita di sini.
Aku persilahkan kedua orang tuaku masuk. Setelah lama berbincang dengan ayah dan abu, suamiku datang dari kantor. Dengan wajah sedikit kaget, dia langsung menyalami ayah ibuku seraya berkata manis seperti saat melamarku dulu. Dasar lelaki bermuka dua! Gerutuku di dalam hati. Dia memang pandai bersandiwara. Orang tuaku mungkin tak akan percaya jika aku menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di antara kami.
Dengan kikuk aku masuk ke dalam kamar menemui suamiku. Kuat-kuat dia menarik lenganku seraya menghardikku. Mengancamku agar aku tidak mengadu pada ayahku. Bahwa dia ternyata masih menjalin hubungan dengan perempuan lain. Sejak kami menikah dia tidak pernah menyentuhku. Dia menikahiku hanya karena sekedar ingin menyakitiku saja. Alih-alih tak ingin kedoknya diketahui oleh keluarganya, dia menuduhku sebagai perempuan mandul. Padahal, dia tak berani menyentuhku sedikitpun. Hanya saja, dia cukup garang ketika menyiksaku. Aku benar-benar ingin segera terbebas dari penjara ini.
Tiba-tiba aku teringat pada orang tuaku yang sedari tadi masih di ruang tamu. Suamiku berganti pakaian. Mengajak ayahku ngobrol dengan ramah dan seolah bersahabat. Sembari ibuku membantuku di dapur menyiapkan makan siang untuk kami.
Sedikit curiga ibuku melihat luka memar di tanganku bekas pukulan suamiku. Waktu itu suamiku membawa ‘perempuan’ yang dicintainya ke rumah. Aku menegurnya, tapi dia kalap dan marah besar padaku. Dengan sekali pukul aku terengah-engah. Aku memilih untuk tidak melawannya. Menghindar adalah pilihan teraman bagiku. Pengabdian yang kata orang-orang mendatangkan pahala, justru bagiku membuahkan malapetaka.
Aku sama sekali tak mengaku pada ibuku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku takut penyakit jantung ayahku kambuh. Pun darah tinggi ibuku anfal lagi. Keduanya sudah begitu percaya padaku. Aku khawatir akan membuat mereka kecewa. Ku katakan pada Ibuku, waktu itu aku sedang mencuci di kamar mandi dan terjatuh hingga tanganku memar. Tanpa berujar sepatahpun ibuku langsung pergi meninggalkanku sendirian di dapur.
***
***
Kali ini, penyiksaan yang dilakukannya telah melampaui batas kekejaman. Dia memukulku tanpa berpikir bahwa aku adalah seorang perempuan. Bagi perempuan, ada bagian-bagian tubuh tertentu yang sama sekali tidak boleh dipukul. Jika terkena pukulan atau benturan, pasti akan membahayakan kesehatan bahkan nyawanya.
Aku meraung kesakitan. Sementara dia dengan seenaknya meninggalkanku dan pergi berkencan dengan ‘perempuan simpanan’-nya. Tak terasa darah mengucur dari keningku. Sekujur tubuhku memar bahkan berdarah. Kenyang dengan tinju-tinju ganasnya. Aku tergeletak di ruang tengah. Menangis, menjerit tak ada yang mendengar. Kalau boleh meminta ingin ku sudahi hidupku saat ini juga. Tuhan, bila aku boleh memohon padaMu, cabutlah nyawaku agar tak terlalu lama aku harus menahan derita ini.
***
Malam itu seolah pertanda bahwa doa-doaku di setiap sepertiga malam terakhir telah terjawabkan. Ayahku berkunjung lagi kediaman mungilku. Beliau memutuskan untuk menginap. Padahal seperti biasa, malam ini ‘suami’ku sudah membuat janji untuk berkencan dengan selingkuhannya di rumah kami. Ulahnya diketahui ayahku.
***
Malam itu seolah pertanda bahwa doa-doaku di setiap sepertiga malam terakhir telah terjawabkan. Ayahku berkunjung lagi kediaman mungilku. Beliau memutuskan untuk menginap. Padahal seperti biasa, malam ini ‘suami’ku sudah membuat janji untuk berkencan dengan selingkuhannya di rumah kami. Ulahnya diketahui ayahku.
Ayahku geram, menariknya ke dalam rumah. Kemudian mengusir teman kencan suamiku itu dan memarahinya habis-habisan. Perasaanku campur aduk. Tak tahu harus marah atau justru kasihan; mengingat mungkin dia juga korban ulah suamiku yang gombal. Walaupun begitu, tetap saja kehadirannya menjadi seteru buatku. Dan ayahku, tentu saja tak dapat menerima perbuatan mereka. Merasa anaknya telah ditelantarkan dan dikecewakan, ayahku memukuli suamiku dan membiarkannya setengah mabuk tergolek di kaki sofa. Kemudian beliau memelukku erat-erat, menyuruhku segera berkemas meninggalkan penjara ini.
Masih dengan nafas yang terengah, aku memeluk kembali ayahku sembari menatap suamiku yang masih terkulai di lantai. Kenapa aku mengiba untuknya? Bukankah dia sama sekali tak menganggapku sebagai manusia? Ku jinjing koperku. Malam itu juga aku meninggalkan rumah yang telah menjadi penjaraku selama lima tahun itu.
“ Nak, Maafkan Ayah yang telah memaksamu menikah dengannya. Kalau Ayah tahu akan terjadi seperti ini, Ayah tak akan memaksamu untuk bersamanya. Ayah tak akan bisa memaafkan diri Ayah, Nak” Ucap Ayahku sembari menyalakan klakson mobil. Aku menatapnya getir. Rasanya kosong, entah bahagia atau sedih yang sedang kualami. Yang kutahu, kini Aku telah terbebas dari belenggu ‘pengabdian’. Pengabdian kepada ‘mereka’ yang katanya surga kita (perempuan) ada pada ‘mereka’.[ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar